Parasit, Bakteri Dan Virus Adalah Mitos

Parasit, Bakteri Dan Virus Adalah Mitos

Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup diselingi dengan sandiwara. Namun bukan berarti bahwa segala sesuatu adalah sandiwara. Sesuatu yang baik selalu berlangsung dalam kepastian yang bisa dijelaskan. Karya apapun kalau ditujukan untuk menghina keyakinan/ kepercayaan seseorang, pasti akan dianggap buruk. Drama apapun kalau ditujukan untuk mencela suatu bangsa, pasti dianggap kurang mendidik oleh masyarakat. Sandiwara apapun yang kita perbuat, jika ditujukan hanya untuk membuat golongan tertentu merasa pantas berpendapatan luar biasa hebat dibanding profesi lain, pasti dirasa canggung oleh para penontonnya. Sebab sekalipun hidup kadang diselingi kepura-puraan, manusia tetap saja lebih menyukai kebaikan, kebenaran dan keadilan (walau diselingi dengan efek sandiwara).

Dahulu, kita sangat yakin dengan berita-berita tentang keberadaan kuman, bahkan berbagai acara televisi juga menyuguhkan tentang hal-hal tentangnya. Tidak jarang juga bahwa ada film tentang betapa ganasnya kuman menggerogoti tubuh manusia. Belum lagi efek iklan yang memaparkan berbagai produk yang dikenal sebagai bahan yang sangat ampuh membunuh kuman. Lama-kelamaan, retorika tentang keberadaan mikroorganisme seolah-olah sebagai sebuah kenyataan. Fakta khayalan yang sangat diagung-agungkan, sebab orang-orang yang memiliki pengetahuan seputar hal-hal tersebut dibayar dengan harga tinggi (“katanya” di zaman yang kelam). Serasa belum cukup puas dengan kebohongan tersebut: dimasukkan pula dalam salah satu daftar ilmu alam yang di ajarkan di sekolah-sekolah masa lampau.

Awalnya kami ragu karena menganggap bakteri dan virus adalah sesuatu yang tidak nyata. Namun setelah dipertimbangkan secara akal sehat: pemikiran ini memang benar. Lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu terdahulu, penelitian dan teknologi seputar mikroorganisme? Berarti itu hanyalah mitos: karya seni kakek-nenek yang sengaja diwariskan secara turun-temurun. Perhatikan apa yang kami ungkapkan tentang mitos ilmu pengetahuan yang satu ini. Sesuatu yang cukup menarik untuk dibahas dan sangat masuk akal jika dihubung-hubungkan dengan teori umum alam semesta. Sebab pada dasarnya, di seluruh alam semesta berlaku hal-hal yang sifatnya terjadi secara terus-menerus dalam pola yang sama. Sekalipun bagian-bagian yang terlibat merupakan komponen yang berbeda, namun garis hidup yang berlaku terhadap semua sifatnya sama.

Aturan I yang dilanggar oleh eksistensi kuman

Pola alam semesta yang pertama adalah “semakin kecil dan sederhana suatu spesies, makin berkurang kelengkapan organnya, makin lemah kehidupannya.” Sudah sepantasnya makhluk yang lebih besar, lebih kuat dari makhluk yang lebih kecil. Hukum ini berlaku di belahan bumi manapun, baik di daratan, perairan dan udara. Satu-satunya makhluk yang lebih kuat dari ukuran badannya sendiri adalah manusia: seandainya kita dibandingkan dengan hewan buas berbadan besar. Ini terjadi hanya karena manusia itu sendiri memiliki tingkat kecerdasan yang lebih baik dari makhluk manapun di muka bumi. Lantas, bagaimana bisa mikroorganisme yang kecil-kecil sampai tidak terlihat, menjadi jauh lebih kuat dari manusia yang adalah inangnya?

Logikanya seperti manusia yang bisa menghancurkan bumi, bagaimana bisa? Makanya justru yang terjadi ketika kita berusaha merusak bumi adalah “bencana alam” dimana komponen lain di dalam bumi justru berusaha meringsek kehidupan umat manusia yang tidak ramah lingkungan. Kemudian siapakah parasit, bakteri dan virus itu? Apakah mereka lebih cerdas dari kita? Atau otot-otot yang bahkan tidak mereka miliki, lebih kuat dari punya kita? Dengan menganggap mikroorganisme sebagai penyebab penyakit yang kita rasakan, sama dengan menganggapnya sebagai makhluk super yang lebih kuat dan cerdas dari manusia itu sendiri. Padahal, kenyataannya makhluk tersebut bahkan tidak memiliki otak yang sebesar manusia: badannya saja sangat kecil, berarti lebih kecil lagi otak/ sistem syaraf yang dimilikinya.

Ada satu budaya lelucon dalam masyarakat yang juga mencoba menentang aturan alam ini. Ini semacam tebak-tebakan tentang “siapa yang lebih kuat, semut atau gajah.” Pasti ada orang yang mengatakan bahwa yang terkuat tentu saja semut, sebab dapat memasuki telinga dan merusaknya dari dalam. Ini adalah pandangan masyarakat awam yang ternyata bukan fakta, melainkan hanya suatu akal-akalan penghibur masyarakat. Sebab kenyataannya tidak ada semut yang terlalu pintar untuk masuk ke telinga gajah. Lagipula karena ukuran badannya yang kecil, semut pasti tidak tahu dimana letak telinga itu. Kecuali si semut ini punya kompas dan Google Maps. 😀 Sekalipun semut tersebut sampai ke telinga gajah, masalah berikutnya adalah cairan telinga yang lengket dan berbau tidak sedap akan menjadi penghalang ganda bagi semut itu sendiri. Jadi, intinya pandangan tersebut adalah mustahil (namanya juga buat lucu-lucuan), melainkan yang seharusnya adalah gajah jauh lebih kuat dari semut.

Aturan II yang dilanggar oleh eksistensi kuman

Pola alam semesta berikutnya adalah “pemangsa (karnivora) lebih sedikit daripada yang dimangsa (herbivora), jika jumlah pemangsa lebih banyak dari yang dimangsa maka akan terjadi seleksi alam sampai kanibalisme di antara pemangsa (karnivora) demi menciptakan keseimbangan.” Aturan ini bisa juga diartikan seperti berikut, “makanan lebih banyak daripada makhluk yang memakannya, bila makanan lebih sedikit maka makhluk pemakan saling rebutan, bersaing, membunuh bahkan bisa menjadi kanibal (memangsa sesama spesiesnya sendiri).” Akan tetapi, entah bagaimana ceritanya virus, bakteri dan parasit yang katanya menjadi lebih banyak di dalam tubuh, bisa saling bekerja sama membuat badan sakit bahkan sampai membunuh manusia pula.

Sepatutnya, saat jumlah mikroorganisme di dalam tubuh melampaui batas normal, maka yang terjadi adalah aksi saling serang yang populer dengan kanibalisme antar mikroorganisme (andai itu ada). Ini adalah sifat alami makhluk hidup untuk mempertahankan eksistensinya dalam suatu ekosistem. Tetapi nyatanya kelakuan kuman malah sebaliknya, terus bereplikasi, bertambah banyak sampai makhluk yang adalah inangnya jatuh sakit bahkan meninggal dunia. Ini seperti kisah Superman yang bisa menghancurkan bumi dengan tinjunya, berkali-kali. Dan bagian terlucunya adalah “jika inangnya mati maka mikroorganisme tersebut juga ikut-ikutan mati (geng bunuh diri = suicide squad).” Padahal sealaminya makhluk bumi, memiliki naluri untuk bertahan hidup yang lebih kuat daripada sekedar bunuh diri masal.

Seluruh makhluk di bumi sekecil apapun itu, tidak memiliki naluri bobrok yang mau agar semua populasinya mati. Sebab pada dasarnya, ketika jumlah spesies suatu makhluk melebihi kapasitas lingkungan yang dapat menampungnya. Maka akan mulai terjadi seleksi alam berupa kelainan nyata pada lingkungan tempatnya berada. Yang sangat nyata di antara semuanya adalah perubahan pH lingkungan. Saat suatu makhluk melebihi kapasitas maka kemampuan lingkungan untuk menyediakan makanan dan menetralkan hasil buangannya (kotoran) sangat minim. Akibatnya, secara berangsur-angsur terjadi perubahan lingkungan yang seyogianya membuat populasi overload tersebut mati satu per satu (tidak sekaligus demi mencapai keseimbangan). Tingkat pH yang berubah drastis bagaikan bencana alam bagi makhluk yang hidupnya di dalam cairan. Tetapi, teori mikroorganisme menyebutkan bahwa perkembangan kuman penyakit terus meningkat bahkan sampai bisa membuat pasien mengalami kematian.

Aturan III yang dilanggar oleh keberadaan mikroorganisme

Pernahkah anda melihat bahwa sebuah pohon mati karena benalu? Sekalipun anda pernah mendengar/ melihatnya, hal tersebut tidaklah benar. Pastinya bukan benalu itulah yang menyebabkan pohon tersebut mati. Melainkan mungkin ada faktor lain seperti, ambruk akar, penebangan (sengaja/ tidak sengaja) dan pestisida pembunuh tanaman. Pada dasarnya sifat parasitisme makhluk hidup tidak ditujukan untuk saling membunuh, melainkan hidup bersama dalam harmoni. Perhatikan tanaman liar di alam yang di atasnya ada tumbuhan parasit: pasti terlihat sehat-sehat saja, batangnya besar dan daunnya pun hijau-hijau. Artinya, tidak ada parasit alamiah yang memiliki nafsu membunuh yang sangat tinggi. Melainkan parasit tersebut sudah pasti hanya mengambil sebagian dari sekian banyak sari-sari makanan yang dimiliki sang pohon. Lihat saja letak, ukuran dan luas penampangnya pasti tidak seluas permukaan batang pohon.

Coba ingat kembali pelajaran kita di zaman SD dan SMP dahulu, pasti sudah diajarkan bahwa ada parasit yang bersimbiosis merugikan inangnya. Kerugian mungkin di derita oleh inangnya tetapi tidak sampai membunuh makhluk kelas tinggi. Tidak ada ceritanya makhluk kelas bawah membunuh kelas atas. Penyimpangan potensi mustahil terjadi dalam dunia tumbuh-tumbuhan karena mereka pada dasarnya tidak memiliki kesadaran. Tumbuhan hanyalah makhluk yang bereaksi lambat terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya. Adanya parasit (yang katanya) sanggup membunuh juga sangat tidak masuk akal sebab dengan demikian dirinya juga mati (bersamaan dengan kematian inangnya). Bagaimana spesies tanaman parasit ini bisa bertahan melewati kerasnya zaman jika hidupnya dihabiskan dalam umur pendek. Padahal semua makhluk di muka bumi diciptakan untuk tetap hidup.

Kesimpulan

Mengapa makhluk seperti manusia dan semua jenis binatang juga tumbuhan disebut sebagai “makhluk hidup?” Karena manusia dan semua makhluk lainnya memiliki tujuan utama selama di bumi, yakni untuk HIDUP: tidak ada makhluk yang secara naluriah “mau bunuh diri” demi apapun. Bahkan sekalipun suatu makhluk menjadi mangsa makhluk lainnya: pasti ada perlawanan dan kemauan untuk bertahan dari pemangsa walau pada akhirnya mati juga.

Siklus hidup tiap-tiap makhluk berbeda walau pada dasarnya sama saja dan tidak saling bertentangan dengan aturan umum alam semesta. Hal-hal yang bertentangan dengan kenyataan hanyalah imajinasi hampa yang kerap dikisahkan dalam berbagai karya seni. Bagaimana mungkin “cecunguk yang imut-imut bahkan tak terlihat” itu lebih cerdas dan kuat dari manusia, sampai menghilangkan nyawa seseorang? Luruskanlah pemikiran anda dan jangan mau diseret oleh pemahaman yang dangkal dan inkonsisten tentang dunia. Sebab bagian-bagian besar dalam dunia ini menjelaskan tentang bagian-bagian kecil di sekitar kita. Jika ada ketidaksesuaian di antaranya, maka hal-hal tersebut lebih dikenal sebagai karya seni yang syarat imajinatif sekedar hiburan masyarakat.

Salam, Yang kecil tidak mungkin
memusnahkan yang besar.
kecuali di dunia sandiwara
yang penuh imajinatif
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.