Terlalu Memikirkan Hal-Hal Duniawi Memperbanyak Keinginan

Fokus pada dunia menggali keinginan lebih dalam dan lebih banyak. Mereka yang ringan hidupnya lebih dominan berfokus kepada Tuhan.

Dimana hatimu berada, disitulah kreativitas mu bekerja. Saat kita fokus kepada dunia ini, ada banyak hal yang ditawarkan, menarik, bahkan menawan dan sangat mempesona untuk dinikmati panca indera. Pola pemikiran yang banyak ini secara tidak langsung bisa mempengaruhi hasrat di dalam hati. Kita akan terpacu lebih intens untuk menginginkan banyak hal-hal duniawi. Sekalipun secara ekonomi belum mampu untuk membeli semua hal yang diinginkan hati: kita terjebak mengiming-iminginya sehingga melakukan berbagai upaya untuk memilikinya, sekalipun dengan cara-cara kotor yang tidak halal. Parahnya lagi adalah, semakin lama kita hidup di dunia, semakin banyak tahun-tahun umur yang kita lalui, maka semakin banyak pula hal-hal duniawi yang kita ingin miliki. Akibatnya, pelanggaran hukum Allah dan hukum manusia yang kita lakukan semakin banyak pula seiring waktu berlalu. Hal tersebut khususnya terjadi sampai saat dimana kita masih mampu menyembunyikan kesalahan tersebut dari orang-orang di sekitar kita. Sekalipun secara hati nurani banyak orang yang mencurigai keanehan jalan hidup kita, namun mereka belum berani mengatakan apa-apa karena kita masih jeli menyembunyikan bau busuk kejahatan yang dilakukan secara diam-diam di tempat-tempat yang tersembunyi. Sayangnya, semuanya itu hanya masalah waktu sampai busuknya kejahatan yang kita lakukan terendus oleh beberapa orang bahkan diumumkan kepada seluruh masyarakat lewat peristiwa ngeri yang mengejutkan yang kita alami cepat atau lambat.

Memikirkan hal-hal duniawi adalah lazim sebagai kita adalah seorang manusia. Namun fokus secara berkelanjutan dan terus-menerus dengan hal-hal duniawi tertentu beresiko menggelapkan (memperburuk) kepribadian kita.

Akan tetapi, tidak demikian jika kita fokus kepada Tuhan. Tidak ada banyak Tuhan di dunia ini, melainkan hanya ada satu Allah yang menciptakan kita, hanya ada satu Tuhan yang menyelamatkan kita dari dosa dan hanya ada satu Roh Kudus yang menyertai kemanapun kita berada dan/atau berjalan. Pola pemikiran yang sederhana semacam ini, secara perlahan-lahan mempengaruhi kepribadian kita (secara tidak langsung). Akibatnya, keinginan akan hal-hal duniawi pun lebih sederhana dan minimalis: kita hanya menginginkan hal-hal yang yang “murni dibutuhkan untuk hidup.” Sehingga resiko melakukan pelanggaran sangat kecil, terlebih lagi jika kemampuan untuk mengendalikan diri cukup terampil di tengah dunia yang syarat dengan jebakan di sana-sini. Oleh karena itu, mereka yang hidupnya lebih dominan fokus kepada Tuhan merasa beban hidupnya lebih ringan. Karena semua dipercayakan kepada Tuhan dan menyadari bahwa negara juga mampu memenuhi kebutuhan kita seiring berjalannya waktu. Selamat beraktivitas dan rajinlah minum air putih!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.