7 Alasan Mikroorganisme Tidak Ada (Kebohongan)

Alasan Mikroorganisme Tidak Ada (Kebohongan)

Alam semesta sangat luas, tidak akan mampu pikiran manusia yang kecil untuk memahami seluruhnya. Namun setidak-tidaknya, kita paham terhadap kehidupan sendiri dan lingkungan yang ada di dekat kita. Sebab pada dasarnya, ada pola-pola khusus yang berlaku dari satu tempat ke tempat yang lain. Biasanya pola tersebut sangat mudah untuk diterima oleh akal sehat. Hanya saja, butuh pemikiran yang dewasa agar mampu menakarnya dengan tepat. Praktek terhadap berbagai pola yang lazim inilah yang senantiasa terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Akan tetapi, kadang ada orang yang menyadari hal tersebut dan ada juga yang tidak. Khusus untuk pola-pola yang lazim dan senantiasa kita alami, pastilah hampir disadari oleh semua orang (kecuali oleh anak kecil yang tidak tahu apa-apa).

Di sisi lain kehidupan yang syarat dengan serba-serbi teknologi, kita malah menemukan berbagai kejadian yang aneh dengan sudut pandang yang berbeda dari pola alamiah alam semesta. Itulah yang kita temukan dalam berbagai multimedia berteknologi canggih, mulai dari radio, televisi, smartphone, komputer, netbook dan lain sebagainya. Jika diperhatikan dengan seksama, kejadian yang dikisahkan dalam media-media tersebut cenderung kurang masuk akal. Tetapi tampaknya beberapa orang percaya saja dengan apa yang dilihat dan didengarnya dan tidak mampu memahami hal-hal rancu dari media yang mereka saksikan. Sedang yang lainnya, memahami dan menyadari bahwa ada yang masuk akal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan ada yang tidak masuk akal yang berupa hasil imajinasi. Hal-hal yang kurang masuk akal inilah yang perlu ditempatkan pada wilayah dan ranah tertentu saja.

Sejatinya, apa yang tidak masuk akal tersebut hanya ditujukan untuk hiburan semata. Namun bila dijadikan bahan ajaran di berbagai sekolah yang secara berangsur-angsur diyakini oleh sejumlah besar orang. Keadaan inilah yang perlu kita batasi, sebab biar bagaimana pun, hal-hal yang kurang masuk akal tersebut suatu saat akan kembali kepada kita dan menyusahkan diri sendiri. Kita ambil saja contoh tentang teori aneh “hal-hal kecil bisa meluluh-lantakkan bahkan membunuh manusia.” Teori ini terkesan bombastis, sangat menarik dan tampaknya membuat orang penasaran. Akan tetapi di sisi lain, hal ini bisa dianggap sebagai motivasi oleh anak muda yang masih remaja bahwa dirinya akan bisa menghantam siapa saja, bahkan yang lebih besar darinya. Keadaan ini seperti layaknya di film-film tentang pahlawan kecil yang menaklukkan dunia. Ini bisa membawa semangat negatif melawan orang tua bagi anak yang belum paham tentang rekayasa perfilman (teknologi CGI).

Alasan mengapa parasit, bakteri dan virus tidak ada

Contoh parasit adalah malaria (penyebab malaria), contoh bakteri adalah salmonela (penyebab demam thypoid), contoh virus adalah HIV (penyebab AIDS) dan masih banyak contoh mikroorganisme populer lainnya yang didongengkan oleh para profesional di bidang kesehatan. Sekalipun pada bagian ini kami mengatakan bahwa semuanya mikroorganisme tersebut tidak ada atau tidak nyata. Bukan berarti kami membenci dan menolak jutaan teori tentang kesehatan, melainkan semuanya ini demi kepentingan kesetaraan antar profesi. Sebab dahulu di zaman kapital, pekerja kesehatan sangat diagung-agungkan, padahal semua yang dilakukannya hanya di dasarkan pada pandangan yang salah. Walaupun beberapa kaidah yang mereka gunakan masih relevan sampai sekarang, misalnya tentang kebersihan namun bukan untuk bebas dari kuman. Melainkan untuk memperbaiki suatu penampilan agar terlihat lebih pantas. Berikut beberapa alasan mikroorganisme tidak nyata.

  1. Tidak ada karena tidak terlihat dan tidak bergerak.

    Sesuatu dikatakan sebagai makhluk hidup karena sesuatu tersebut terlihat dan beraktivitas. Bukan sebongkah batu atau kerikil kecil yang jika diamati sampai kapanpun takkan menunjukkan tanda pergerakan. Hal-hal mikro tersebut tidak memiliki susunan otot untuk bergerak melainkan hanya berpindah menurut aliran fluida (cairan) yang bergerak di sekitarnya.

    Semua gamber mikroorganisme di buku cetak yang tampak angker: berbulu, berduri, berflagel, hanyalah ilustrasi belaka. Dahulu kami pun telah menyaksikan hal tersebut semasa di bangku kuliah di bawah mikroskop; sayangnya, tidak ada yang bentuknya aneh seperti yang dipelajari saat sekolah tempo dulu/ di zaman sebelumnya. Melainkan semuanya tampak berbentuk bulat seperti pasir atau batang seperti kayu. Juga tidak ada gerak-gerik yang dapat diamati (katanya sediaan tersebut telah mati). Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa sediaan tersebut hidup jika bergerak saja tidak bisa?

    Ketidakterlihatan kuman merupakan peluang besar para profesional untuk mengakali seorang pendebat yang menentang mereka. Sebab memang tidak ada seorang pun yang bisa menyaksikan aktivitas makhluk tersebut. Tetapi efeknya membuat orang sakit dan rasa sakit itulah yang membuat manusia “secara terpaksa” mengiyakan saja berbagai dongeng tentang kuman asalkan bisa sembuh darinya.

  2. Hal kecil mustahil memunahkan yang besar.

    Kuman itu apalah, teorinya tidak terlihat tetapi memangsa sesuatu yang terlihat. Ini seperti kejadian di film-film horor dimana “hantu bisa melahap manusia.” Sesuatu yang tidak nyata malah menelan hal-hal yang nyata. Bayang-bayang yang kadang hilang namun bisa menjerumuskan raga ke jurang terdalam. Ini adalah teori dari film-film yang bertemakan hal-hal fantasi yang syarat imajinatif. Sesuatu yang menarik untuk disimak namun bukan untuk menjadi nyata. Melainkan hanya memperindah lamunan di hari-hari yang sepi.

    Kalau di dalam karya seni, batu secuil pun pasti bisa diposisikan untuk membunuh seseorang. Akan tetapi, di dunia nyata tidak perlu berbicara tentang kemampuan sesuatu yang bahkan tidak terlihat namun sanggup melenyapkan seseorang. Perbandingan-perbandingan semacam ini, pasti bisa mencerahkan pemikiran manusia sehingga orang-orang akan balik bertanya: “mikroorganisme itu apa ya?”

  3. Kuman bukan sejenis parasit (Tidak ada parasit tumbuhan yang mampu membunuh inangnya).

    Jika anda masuk ke hutan-hutan, ada banyak pepohonan besar yang memiliki tanaman lain menempel di batang dan dahannya. Akan tetapi, pohon tersebut tampaknya baik-baik saja: batangnya sangat besar, tinggi dan daunnya hijau-hijau. Jadi, secara alamiah, parasit tanaman tidak punya kemampuan untuk membunuh. Melainkan iapun hidup beradaptasi dengan inangnya. Bila pohon inangnya semakin besar, parasait itu pun semakin besar namun ukurannya tentu jauh lebih minimalis dari inangnya.

    Mikroorganisme digembar-gemborkan mampu melemahkan, menyakitkan bahkan mampu memunahkan inangnya lewat berbagai macam penyakit aneh yang beragam. Bagaimana mungkin teori yang terkesan syarat imajinatif ini dapat diterima tanpa penyangkalan sedikit pun? Bila aktivitas makhluk parasit besar yang serupa dan terlihat saja tidak ada yang searogan itu, apa lagi aktivitas makhluk yang kecil-kecil.

    Keberadaan kuman jelas tidak memiliki contoh-contoh hidup yang polanya sama sepertinya. Jika dikatakan sebagai parasit, maka hal tersebut mustahil. Sebab setiap parasit cakupan besar tidak pernah membunuh inangnya. Mereka selalu lebih kecil dari inangnya dan mampu menyesuaikan diri; hidup bersama sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

  4. Kuman bukan predator.

    Buaya, harima, singa, kuda nil dan lain sebagainya selalu berukuran lebih besar daripada mangsanya. Dimana para predator tersebut mempunyai nafsu membunuh yang sangat besar terhadap mangsanya, karena memang demikianlah habitat mereka di alam demi menjaga keseimbangan lingkungan. Nafsu membunuh yang dimiliki predator tidak sampai memunahkan mangsanya karena ada efek kompetitor yang semakin tinggi jika nafsunya terlalu besar (mangsa menipis, persaingan meningkat, makanan yang di dapat sedikit, predator melemah bahkan beberapa mati).

    Coba kita baca beberapa literatur tentang mikroorganisme yang menyebutkan bahwa kuman berkembang dalam tubuh pasien dan dapat membuatnya mati terbunuh. Muncul pertanyaan kuman ini sebenarnya makhluk jenis apa? Ini kalau dikategorikan sebagai predator maka keberadaannya menentang azas-azas predatonisme, seperti ukuran yang lebih besar dari mangsanya, kemampuan menjaga keseimbangan alam dan persaingan dalam kelompok. Jadi, bisa dikatakan bahwa mikroorganisme itu bukanlah makhluk hidup dan hanya merupakan entitas imajinatif manusia.

  5. Mikroorganisme tidak memiliki persaingan demi menjaga populasi.

    Di dunia predator ada kompetisi untuk menjaga keseimbangan antara jumlah pemangsa dengan yang dimangsa. Jika jumlah predator lebih banyak dari jumlah makanannya, akan terjadi perebutan berdarah yang menyebabkan perkelahian, luka-luka dan kematian. Memang ada hewan yang hidup secara berkelompok namun, terbatasnya jumlah makanan berpotensi menceraiberaikan kelompok tersebut. Semuanya ini demi menjaga keseimbangan agar keberadaan spesies predator dan mangsanya tetap lestari di bumi yang permai.

    Coba amati, teori-teori tentang keganasan kuman yang bisa didapat dari buku kesehatan atau literatur di internet. Katanya, mereka bereplikasi sangat cepat, melemahkan daya tahan tubuh sampai menyebabkan kematian. Bagaimana bisa mereka bekerja sama satu sama lain, padahal tidak punya otak? Ini sangat aneh, padahal kelaziman alam semesta menyebutkan bahwa persaingan antar hewan selalu ada demi mempertahankan spesiesnya. Ruginya diakhir adalah, mereka tidak hidup tetapi sama-sama mati ketika manusia sakit tersebut meninggal dunia.

  6. Setiap makhluk hidup untuk hidup bukan untuk mati.

    Logikanya adalah “setiap makhluk di alam semesta, ada untuk hidup agar dirinya dan keturunannya tetap lestari.” Makhluk yang hanya hidup untuk mati memang ada di film-film yang menceritakan tentang terorisme. Mereka rela melakukan bom bunuh diri, membakar diri sendiri demi mengguncang musuh-musuhnya.

    Aneh saja di dunia nyata, bila ada makhluk yang hidup, hanya untuk mati. Di sini kita bicara tidak soal satu-dua makhluk saja, tetapi ada ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan kuman yang mati bersamaan dengan matinya host/ inang yang ditempati. Kuman seperti makhluk yang ada, untuk berkembang biak, berjuang dan sangat aktif. Namun sangat tidak masuk akal jika mereka melakukan aksi bunuh diri untuk mati bersama pasien yang menderita penyakit. Seharusnya, sudah bermatian sebagian akibat persaingan antar kuman dan perubahan pH tubuh pasien yang merusak kuman itu sendiri (andai itu ada). Akan tetapi bukan ini yang terjadi, melainkan naluri bunuh dirinya sangat besar sampai membuatnya mati bersama inangnya. Tidak ada makhluk yang susah payah menjalani hidup namun hobinya adalah mati! Makhluk hidup dengan kecenderungan semacam ini pasti sudah punah dari zaman yang jauh sebelum-sebelumnya.

  7. Kuman adalah konspirasi racun (Kuman bisa seolah-olah ada, padahal anda sedang diracuni).

    Setelah belajar dari teori-teori sebelumnya, kita akhirnya bisa memahami bahwa sesungguhnya kisah seru tentang keberadaan kuman terjadi bertepatan saat penyakit dan ketakutan menghantam hidup seseorang. Di tambah lagi bila kapital yang berkuasa atasnya, mencoba menakut-nakuti dan meyakinkan seorang bocah tentang keberadaan mikroorganisme. Sambil-sambil meracuninya dengan zat-zat kimia tertentu, sehingga seolah-olah perkataan orang tua benar semua. Inilah ketakutan dan kesesatan berpikir yang bisa saja dilakukan oleh orang tua manapun agar bocah tersebut menuruti semua yang diinginkan ortu.

    Jika anda sebagai anak sedang mengalami konspirasi racun yang membuat badan kerab merasa sakit: hadapi sajalah kawan. Sebab hal-hal tersebut biasanya tidak menyebabkan sakit yang permanen. Melainkan semata-mata demi membuat diri anda belajar fokus Tuhan, ikhlas, sabar, rendah hati dan tidak jemu-jemu melakukan kebaikan selama menjalani carut-marut kehidupan. Bila muncul teori dari orang tua atau dari orang lain atau dari film, carpen, novel dan media informasi lainnya yang menghubung-hubungkan rasa sakit yang dialami dengan keberadaan mikroorganisme: berusahalah tetap tenang karena semuanya itu hanyalah dongeng kakek nenek.

  8. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Manusia suka bersandiriwara, jadi tidak ada salahnya kalau para petugas kesehatan juga bersandiwara. Akan tetapi, janganlah hal tersebut sampai dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang lebih bagi kelompoknya. Kisah dramatis tentang kuman akan tetap menjadi dongeng yang enak untuk disaksikan tetapi bukan untuk dibawa-bawa dalam kehidupan di dunia nyata. Jika para seniman bersanjak, maka bisa saja hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin terjadi: semata-mata karya tersebut untuk memberi sedikit pencerahan dan hiburan di tengah masyarakat yang syarat dengan pandemi kehidupan. Biarlah keanekaragaman tersebut diterima dengan lapang dada sebatas di dunia kerja saja. Kiranya yang terwujud di dalam kehidupan sehari-hari hanyalah kebaikan, kebenaran dan keadilan yang membawa orang-orang dalam damai sejahtera, luar-dalam!

Salam, Dongeng sekedar hiburan belaka.
Hidup bisa lebih beragam
karena kisah-kisah mistis
yang mengarahkan hari
dalam hal-hal positif
yang dilantunkan dari
zaman ke zaman
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.