Kebenaran Dan Kejahatan Tidak Menyatu Dalam Diri Seseorang Tetapi Menyatu Dalam Karya Seni Tertentu

Kebenaran dan kejahatan tidak mungkin bercampur aduk (mustahil menyatu dalam satu pribadi). Justru memelihara kejahatan beresiko tinggi secara perlahan & pasti akan mengoyakkan kebenaran. Kecuali kejahatan itu dibungkus dalam plastik+kaca sandiwara demi menegaskan & memperkuat kebenaran.

Pengertian singkat.

Kita mungkin pernah berpikir naif karena merasa bahwa kejahatan dan kebenaran merupakan dua sejoli yang membuat hidup lebih menarik untuk dijalani. Seperti layaknya kisah-kisah populer yang disajikan di dalam indahnya karya seni. Dimana kesannya lebih seru ketika konflik terus saja bergulir. Padahal semuanya itu tidak benar-benar terjadi karena hanya bagian dari rekayasa sandiwara. Semata-mata untuk lebih menegaskan dan memperkuat sesuatu yang dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Pada hakekatnya diantara para artis, tidak ada yang benar-benar melakukan dosa dalam setiap penampilan artis antagonis (dianggap sebagai musuh). Sebab adegan yang mereka lakukan adalah peran tunggal yang tidak ada sangkut-paut emosional dengan siapapun dan konflik yang terjadi hanyalah dalam pikiran/ pemahaman kita sebagai penonton/ penikmat yang terbatas.

Sayangnya, orang yang merasa benar namun dirinya memelihara kejahatan di dalam hati. Secara berangsur-angsur melibatkan emosi negatif yang menjadi awal dari pikiran buruk terhadap seseorang (pihak tertentu). Sehingga pada suatu waktu, beresiko tinggi menjadi kejahilan nyata yang menyinggung sesama, entah itu secara mental maupun secara fisik. Oleh karena itu, membahas-bahas kebencian sekecil apapun, beresiko menjadi korek (pemantik kecil) yang dapat menyebabkan kebakaran besar-besaran dalam kehidupan sendiri.

Jadi, kebenaran dan kejahatan mengalami fusion (penyatuan) hanya di dalam film sinetron, novel, roman, carpen, komik dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya konflik tersebut sebatas dalam pikiran penontonnya/ penikmatnya saja. Dalam kehidupan sehari-hari, orang benar tidak perlu memelihara kejahatan di dalam hati. Karena apa yang kita pikirkan dapat memancing emosi negatif yang menciptakan pikiran kotor terhadap orang/ oknum tertentu. Lebih baik lupakan hal-hal jahat dalam indahnya fokus kepada Tuhan. Sehingga ada damai, bahagia dan tenteram dalam hati. Sedang sikap-sikap yang diekspresikan tidak jauh-jauh dari kebaikan, kebenaran dan keadilan. Selamat beraktivitas dan sering-seringlah minum air putih!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.