Rangkaian Kebaikan: Yang Tertanam Perlu Disalurkan Agar Bahagia Sepenuhnya

Kebaikan yang tertanam di hati tidak cukup untuk membuat kita merasa puas. Kita perlu menyalurkan kebaikan tersebut lewat kemampuan dan kesempatan yang kita miliki agar kebahagiaan kita penuh.

Singkat cerita.

Kebaikan adalah serangkaian kegiatan yang bermula dari niat hati yang berdiri di atas fondasi kepercayaan kepada Tuhan dan kerangka berpikir logis menurut peraturan tertentu. Rangkaian ini akan terus berlanjut sampai bermuara dalam bentuk perkataan dan perbuatan sehari-hari.

Hanya saja, ada keadaan khusus yang membuat baiknya hati hanya bergerak di dalam hati saja. Ini mungkin terjadi karena keterbatasan kita sebagai manusia biasa yang tidak bisa selalu sempurna. Bisa saja keadaan ini terjadi karena keterbatasan kita dalam hal materi (uang pas-pasan) atau dalam hal bersosial (kurang mengenal/ dekat dengan orang tersebut). Kadangkala pula terbatas karena kita merasa ada sesuatu yang tidak lazim atau sesuatu yang mungkin menyinggung norma tertentu. Sehingga hanya doa yang mengantar kebaikan kita semoga dikabulkan dalam keseharian orang lain.

Kesempatan berbuat baik yang lebih singkat kita peroleh dari kata-kata sapaan. Beberapa dari kita yang sudah mahir melakukannya tidak perlu memikirkan panjang-lebar karena hal tersebut terlepas begitu saja. Mungkin, ini juga menunjukkan bahwa kita telah sekian lama melakukannya sehingga menjadi terbiasa melakukannya tanpa pikir panjang. Selain itu, variasi saat menyapa sesama juga turut mempersingkat waktu ekspresi, seperti dengan tersenyum, menganggukkan kepala, mengangkat tangan/ membuat simbol tertentu dan lain sebagainya.

Dalam beberapa momen, kita merasa tindakan baik yang kita lakukan secara terbatas (hanya mendoakan dalam hati atau lewat kata-kata saja): sudah cukup. Namun dalam momen tertentu, kita juga mungkin pernah merasa bahwa kasih yang kita lakukan masih menggantung. Sebab kita ada kemampuan (potensi/ kelebihan) dan ada kesempatan untuk bertindak lebih namun telah disia-siakan karena alasan yang kurang tepat. Inilah, sedikit penyesalan yang tersisa di dalam hati karena kurang sigap memanfaatkan situasi. Sehingga membuat rasa puas kurang terpenuhi karena belum maksimal memanfaatkan waktu sampai membuat kebaikan kita terasa tanggung. Ingin rasanya mengulang waktu ke belakang untuk memperbaikinya, tetapi mustahil. Biarlah ini menjadi pengalaman berharga bagi kita untuk lebih bijak memanfaatkan potensi/ kelebihan dan kesempatan yang ada sebagus-bagusnya di masa depan.

Disisi lain, serangkaian kebaikan kita juga menjadi tidak lengkap karena faktor alami. Misalnya karena yang dibutuhkan memang hanya hal tersebut setelah kita kaji secara singkat atau dari berbagai sudut pandang. Atau bisa jadi, karena memang hanya itu yang diminta atau yang di-riquest oleh orang yang bersangkutan. Misalnya saja saat ada orang yang meminta kita agar mendoakan masalahnya atau membantunya dengan menjadi penghubung perantara komunikasi yang kurang harmonis dengan orang lain. Dan masih banyak lagi amal yang membuat kita tidak perlu bertindak lebih lanjut (hanya dengan berdoa atau berkata-kata saja). Namun tetap mendatangkan kepuasan setelah menyelesaikannya.

Zaman sekarang, mustahil ada manusia yang sama sekali tidak baik. Sebab hanya dengan berdoa saja, kita sudah bisa berbagi kasih kepada sekian banyak orang. Terkadang yang membuat kita kurang berbaik hati adalah rangkaian yang terputus atau terbatas di hati saja atau dalam hal kata-kata belaka, namun belum diteruskan dalam bentuk tindakan nyata. Padahal kita ada potensi/ kelebihan yang dimiliki dan ada pula kesempatan yang bagus untuk melakukannya; sayangnya belum diwujudkan. Sesuatu yang menggantung seperti ini, bisa mengganjal di hati sehingga rasanya kurang puas bahkan sedikit menyesal karena kita belum sepenuhnya/ sepenuh hati mewujudkan niat positif tersebut. Di samping itu, sadarilah juga bahwa amalan yang gantung tersebut kadang sudah sesuai pesanan sehingga tidak perlu lebay, merasa ada yang kurang pas. Apapun yang kita perbuat di dunia ini, bila didasari dengan cinta kepada Tuhan dan kasih kepada sesama yang tanpa pamrih (tidak menuntut balas); pasti akan mendatangkan kepuasan seutuhnya yang membahagiakan hati. Terlebih lagi jika dalam berbagai aktivitas, kita bermultitasking bedah (bernyanyi dalam hati) sambil mengerjakan hal-hal bermanfaat: yang membuat rasa bahagia menjadi konsisten dan stabil dari waktu ke waktu. Selamat beraktivitas dan rajinlah minum air putih!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.