Modernisasi Kepribadian Mudah Marah-Galau Jadi Tetap Bahagia Dalam Ragam Situasi

Merasa emosian dan/atau galau karena masalah adalah kebiasaan lama. Merasa bahagia ditengah masalah adalah modernisasi kepribadian.

Ide cerita singkat.

Seyogyanya kehidupan kita awalnya diselimuti oleh kedagingan yang lebih dekat dengan naluri kebinatangan. Amarah sudah diubun-ubun, lidah bersilat penipuan, mata yang mudah terbakar hawa nafsu, bibir yang syarat dengan kesombongan. Telinga yang gemar diperlakukan secara khusus (seolah-olah sebagai seorang dewa). Mengejek dengan semena-mena, kaki yang cepat melangkah kepada kejahatan dan tangan yang gemar melakukan penindasan.

Demikian pula saat kita menghadapi masalah: pasti awalnya mudah kecewa tanpa alasan yang jelas. Suka marah-marah mengacau, segera merengek untuk dimanja, cepat menangis, bersedih dan cepat galau sampai merasa putus asa untuk melanjutkan hidup. Semua kedagingan ini biasanya tidak akan mempertemukan kita dengan sisi kehidupan yang indah. Sekalipun kita merasakan yang nikmat, namun kita tidak dapat benar-benar menikmatinya karena keluh-kesah yang berujung sungut-sungut membuat kita semakin karatan (berlama-lama) dalam keterpurukan yang menghancurkan kekuatan jiwa (semangat) dan melemahkan fisik.

Setelah merasakan akibat langsung (segera dirasakan) maupun tidak langsung (dirasakan setelah beberapa waktu/ hari setelah tindakan yang dilakukan). Dari yang awalnya berupa pikiran negatif, kemudian ujung-ujungnya menghasilkan kebiasaan buruk. Sebagai manusia berbudi luhur yang merindukan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang dekat dengannya. Kita mulai beranjak keluar dari kedagingan untuk memulai pikiran positif demi membiasakan diri dengan kebajikan. Mengatur ulang fokus agar lebih banyak tertuju kepada Tuhan, menyisihkan sebagian sumber daya untuk berbagi kepada sesama diwaktu yang tepat. Melakukan pekerjaan yang bermanfaat, mempelajari hal-hal baru dan menekuni hobi yang digemari. Kebiasaan-kebiasaan baik, benar dan adil akan terus-menerus melatih kita untuk lebih bersikap sabar, ikhlas, rendah hati, rela berkorban apa yang dimampu, jujur, konsisten dan berpendirian teguh.

Pertama kali mendapat masalah atau paparan perdana dari masalah kritis yang kita hadapi cenderung mengarah pada respon negatif. Persoalan bisa membuat seseorang mudah ngambek, marah membabi-buta, tidak semangat, bersedih, galau dan merengek-rengek agar keinginan yang aneh-aneh dikabulkan. Akan tetapi, latihan menekuni kebajikan membuat seseorang lebih tenang, tenteram, dan damai menghadapi ragam situasi. Serta bahagianya hati menjadi sangat solid tidak mudah hancur karena guncangan situasi yang kadangkala menekan panca indera. Rangkaian panjang perubahan positif semacam inilah yang disebut sebagai modernisasi kepribadian di tengah perkembangan zaman. Selamat beraktivitas dan rajinlah minum air putih!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.