Merantau Dan Memahami Dunia Karena Tidak Ada Yang Mau Menjauhi Hal-Hal Sorgawi

Merantau sepanjang usia, bertandang kemana suka. Tetapi tidak pernah jauh dari Sang Pencipta; sekalipun yang disukai tidak lagi menyukai; atau jangan-jangan kitalah yang salah persepsi. Karena yang kita terima tidak kita pahami & tidak seperti yang kita inginkan.

Alur cerita singkat.

Manusia hanyalah seorang perantau di muka bumi seumur hidupnya. Sebab hari-hari kita hanya berlangsung beberapa puluh tahun, beberapa ratus tahun atau beberapa ribu tahun saja. Setelah itu, setiap insan akan berpulang juga pada masanya: entah itu ke sorga dan mungkin juga ada orang yang menghabiskan sisa waktunya yang tak terbatas di kolong neraka.

Tentulah implementasi dari keadaan ini adalah adanya kerinduan terhadap tempat yang selama ini menjadi tujuan utama kita. Kita rindu dengan suasana sorgawi yang penuh bahagia, tenteram, damai, sejahtera, penuh kasih dan sorak-sorai memuji Tuhan. Sekalipun belum sampai ke sorga, namun iman kepercayaan kita akan menuntun kita untuk setidak-tidaknya diberi kesempatan menikmati indahnya sorga duniawi semacam itu. Lagipula diantara manusia tidak mungkin ada yang tujuan akhir dalam hidupnya adalah neraka: bahkan orang bodoh sekalipun akan menjauhi ide gila semacam ini.

Walau selama kita hidup, ada banyak kesimpangsiuran yang dialami. Terlebih lagi saat masih muda, kita belum tahu dengan jelas seluk-beluk berbagai hal. Sementara keinginan pribadi mulai aneh-aneh. Sehingga kita menjadi ambigu: salah pikir bahkan sampai salah tingkah menanggapi hal-hal yang berseliweran di sekitar kita. Misalnya saja terhadap pertanyaan singkat seputar pilihan hidup: maunya disukai saja atau hanya menyukai? Pilih dicintai saja atau malah hanya mencintai belaka? Kita merasa bahwa ada hal-hal dalam hidup ini yang berjalan searah saja. Dimana hanya kita yang mengambil peran untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Sedang, kita merasa bahwa orang lain atau pihak lainnya tidak melakukan apapun.

Tentulah anggapan semacam ini seperti cambuk berduri yang mudah menancap di dalam benak kita yang belum dewasa: tatkala menyaksikan sikap acuh tak acuh atau pengabain dari seseorang/ pihak lain. Padahal tidak selamanya orang yang tampak abai merupakan orang yang sama sekali tidak peduli. Mungkin saja, dia hanya merespon secara variatif namun belum kita sadari/ belum kita saksikan. Keadaan semacam ini kerap dialami oleh banyak orang. Sehingga membuat beberapa orang mengganggap orang tertentu bersikap acuh tak acuh kepadanya. Padahal sesungguhnya tidak demikian, sebab beberapa respon variatif terjadi di luar jangkauan pengamatan kita atau ada alasan lainnya mengapa hal tersebut terjadi. Artinya, orang lain yang disebelah kita telah merespon namun hal tersebut diluar jangkauan pengamatan indera kita: entah keadaan ini terjadi disengaja atau tanpa disengaja.

Kita tidak perlu terburu-buru menilai orang lain dari satu atau dua sikapnya saja yang kebetulan kita anggap kurang baik. Sebab bisa saja hal tersebut terjadi karena kelemahan panca indera manusia yang tidak dapat memantau sekeliling sejauh 360 derajat. Sedangkan hal-hal lain seputar orang tersebut tampaknya lancar saja. Dimana kesehariannya adalah orang yang lurus hati & tanggung jawab yang diembannya telah diselesaikan tepat waktu. Jadi, respon orang lain terhadap diri kita bisa saja variatif dan mungkin kurang dapat kita amati. Namun kawan tersebut tidak benar-benar abai terhadap segala sesuatu karena kenyataannya diapun telah menyelesaikan atau menuntaskan apa yang menjadi bagiannya.

Bila kita masih hidup dalam kesimpangsiuran dalam beberapa hal. Kita jangan berpikiran negatif dengan menganggap bahwa dunia ini jahat. Sebab merantau kemanapun, hidup kita tidak akan pernah jauh-jauh dari gaya hidup sorgawi yang menjunjung tinggi kebajikan. Seyogyanya kesimpangsiuran dalam hidup kita tidak selalu merujuk pada hal-hal yang jahat dan berbahaya. Mungkin saja keadaan ini bisa terjadi karena kita belum memahami situasi tersebut – kita belum menjadi perantau dengan pengalaman profesional. Atau bisa juga karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan (keinginan yang sempit). Oleh karena itu, tidak perlu terburu-buru menganggap ini-itu salah atau buruk karena mungkin saja pengamatan kitalah yang kurang akurat memahami rupa-rupa variasi sikap manusia. Masih ada sisi lain yang mungkin belum kita pertimbangkan namun menunjukkan kualitas kepribadian, pelayanan dan bakti seseorang dalam keseharian kita. Diatas semuanya itu, ingatlah bahwa hidup mengandung tantangan yang bukan untuk membuat manusia menjadi lalim. Melainkan kesemuanya itu merupakan modal dasar untuk membuat pikiran positif dan sikap tidak jauh-jauh dari kebaikan, kebenaran dan keadilan. Selamat beraktivitas, jangan lupa tarik-hembuskan nafas secara sengaja – secara berkala dan sering-seringlah minum air putih!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.