Pasrah Kepada TUHAN Walau Keinginan Dan Perjuangan Dilakukan Diri Sendiri

Pasrahkan hidup di dalam Tuhan tetapi berjuanglah menjalani hari. Agar apapun hasil yang didapatkan dapat diterima dengan lapang dada penuh ikhlas sehingga bahagia terjaga stabil. Terlebih lagi jika Tuhan selalu di hati: hari jadi kebersamaan penuh damai, sukacita tanpa henti dan hati pun selalu tenteram.

Alur cerita singkat.

Keinginan dan tujuan: serupa tapi tak sama. Sebab manusia biasanya memulainya dengan segera “menginginkan sesuatu.” Barulah setelah itu muncul istilah “tujuan” untuk kemudian diwujudkan. Segala sesuatu di mulai dari adanya nafsu yang kadangkala tidak disadari seseorang karena sifatnya yang spontanitas. Tidak demikian dengan tujuan: biasanya apa yang dituju sudah terlebih dahulu dipikirkan matang-matang. Atau lebih kerennya dikatakan sebagai sesuatu yang sudah direncanakan dengan pertimbangan logika yang sehat.

Manusia dengan segala kehendak bebas yang dimilikinya dapat menimbulkan instabilitas secara internal bahkan sampai meluas kemana-mana (eksternal). Saat hal tersebut hanya menyangkut satu-dua orang saja efek yang timbul tidak seberapa. Lain halnya ketika keinginan tersebut diajarkan kepada orang lain, bahkan sampai menjadi keyakinan dan tujuan yang diperjuangkan oleh orang-orang yang hidup berkelompok atas dasar kesamaan tertentu. Sekalipun demikian, zaman sekarang sudah jarang orang yang terlalu peduli dengan hasrat orang lain sebab dirinya sendiri pun memiliki hal yang lain untuk diwujudkan.

Ketika seorang manusia terjebak dalam hawa nafsunya. Menganggap bahwa itu adalah satu-satunya cara yang membuatnya senang. Tidak ada lagi pikiran jernih – logika yang biasanya penuh pertimbangan, tidak mampu pula menguasai dirinya. Pengendalian diri dalam orang tersebut tidak menentu. Dirinya hanya bergerak berdasarkan gejolak emosional yang dirasakannya. Apa yang diinginkannya adalah mutlak terjadi karena merasa yang terbaik baginya adalah terbaik juga bagi semua orang yang seumuran dengannya. Sekalipun ada yang kurang setuju namun masih dikejar juga: meski ada banyak alasan untuk meniadakan keinginan tersebut.

Tidak jarang terjadi bahwa rupa-rupa kekuatan akan menjadi penentu keinginan siapa yang akan terwujud. Terlebih ketika bumbu-bumbu marketing menjadi hipnokatalis (hipnoterapi yang mengkatalisator situasi untuk tujuan tertentu): siapa yang duluan dialah pemenang – dialah rajanya. Kekuatan yang mulai mengkristal adalah bahan bakar, yang berupa kekuatan dari aliran mega materi atau dari inti kekuasaan yang bersangkutan. Setelah saling adu mulut soal siapa yang lebih unggul maka persaingan akan dilanjutkan dengan pertarungan sumber daya. Yang secara masif bisa berdampak buruk bagi orang-orang disekitar. Semakin besar sumber-sumber yang diadukan, maka semakin besar pula efek domino yang ditimbulkannya. Jadi, jelas bahwa hasrat manusia yang tidak terkendali adalah sasaran persaingan yang membawa bencana bagi diri sendiri dan bencana pula bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Disisi lain, muncullah pertanyaan sekaligus pernyataan yang merupakan kenyataan: bukankah kita yang menginginkan sesuatu dan kita juga yang mengusahakannya. Lantas, mengapa kita perlu pasrah kepada Tuhan? Bukankah hasilnya juga tergantung dari kemampuan kita? Memang ini jalan logikanya masuk akal. Namun berhubung ada banyak faktor yang mempengaruhi terwujud-tidaknya hasrat di dalam hati. Lebih baik memasrahkannya di hadapan Tuhan demi menepis kebiasaan mendewakan diri sendiri dan menyangkal sifat yang selalu merasa sempurna. Hal-hal seperti itu, jelas tidak manusiawi sehingga perlu ditindaklanjuti dengan menyangkal diri.

Oleh karena itu, daripada hawa nafsu di dalam dada membuat repot seluruh kehidupan kita bahkan seluruh dunia juga. Alangkah lebih baik jika kita tidak mendewakannya secara mutlak. Melainkan dengan rendah hati, menyerahkannya di bawah kaki Yesus Kristus. Biarlah kepasrahan kepada Sang Pencipta membuat keinginan yang terwujud sesuai dengan kehendak Tuhan. Walau disisi lain kita masih saja berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan ambisi yang dicanangkan. Namun, setelah hasilnya keluar: kiranya kelapangan dada dan keikhlasan mendahului kita. Sehingga apapun yang terjadi, kita dapat menerimanya dengan sukacita. Otomatis keputusan semacam ini membuat kebahagiaan kita selalu stabil – selalu ada, meskipun sesaat sebelumnya, kita diperhadapkan dengan gejolak yang cukup alot. Namun, kita bersyukur semuanya dapat berjalan lancar karena Tuhan selalu di hati. Membuat kita bahagia tanpa henti, tetap tenteram di tengah banyaknya kesibukan dan tentu saja hidup pun damai serta sejahtera bersama orang-orang di sekitar kita. Selamat beraktivitas, sering-seringlah minum air putih dan jangan lupa tarik-hembuskan nafas secara sengaja – secara berkala!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.